Selasa, 27 Desember 2016

Ayah



Ayah..
Bolehkah aku bertanya?
Bolehkah aku mengadu padamu?
Ayah..
Apakah semua laki-laki itu sama?
Ayah..
Bolehkah aku mencintai laki-laki lain selain dirimu?
Bolehkah aku mencintainya dengan sepenuh hati?
Ayah..
Jika kelak aku menemukan orang yang aku cintai, maukah kau melepaskanku untuknya?
Membiarkan aku hidup bahagia dengannya dan menggantikan peranmu untuk melindungiku?
Bolehkah aku lebih sering mengingatnya daripada mengingatmu, ayah?
Tapi ayah..
Hati ini risau dan bingung
Bagaimana jika orang yang aku cintai tidak sepertimu?
Bagaimana jika dia menyakitiku?
Bagaimana jika dia membuatku menangis?
Bagaimana jika dia tidak menyayangiku seperti kau menyayangiku selama ini?
Ayah..
Katakan padaku, sosok seperti apa yang kau inginkan?
Sosok yang membuat kau tenang dan percaya ketika aku bersamanya?


Selasa, 13 Desember 2016

Pak Gundul Supir Taksi



Hari ini adalah hari pertama Pak Gundul bekerja sebagai supir taksi. Perasaannya masih gugup dan deg-degan setengah mati. Pak Gundul yang bekerja di Bali terpaksa harus bisa menguasai bahasa inggris yang biasa digunakan oleh para turis asing. Namun karena terpaksa Pak Gundul tetap bersikeras untuk mencoba menjalani profesinya itu walaupun penguasaan bahasa inggrisnya masih terbatas.
Hari pertama bekerja, Pak Gundul mendapatkan penumpang. Seorang turis wanita cantik dengan ciri khas perawakan tinggi, kulit putih mulus, mata agak hijau,  rambut pirang, dengan kaos hijau, celana jeans pendek diatas lutut, berkacamata, dan memakai sandal jepit. Dengan senyum yang merekah Pak Gundul membukakan pintu mobilnya. Wanita bule itu penumpang pertama dihari pertama Pak Gundul bekerja sehingga Pak Gundul menyebutnya penumpang spesial tapi gak pake telor. Setelah Bule itu masuk mobil, Pak Gundul menanyakan kepada Si Bule.
Excuse me, Miss. Where are you going?” Tanya Pak Gundul dengan bahasa inggris yang bulepotan bercampur logat daerah yang sebelumnya pertanyaan itu sudah Pak Gundul Pelajari.
I want to Kuta Bali beach” Jawab Si Bule dengan singkat
Setelah mendengar jawaban Si Bule, Pak Gundul hanya manggut-manggut.
Ditengah perjalanan Pak Gundul hanya diam dan berkeringat. Pak Gundul takut kalau Si Bule itu mengajaknya bicara dan Pak Gundul tidak bisa menjawabnya. Kalaupun nanti pak Gundul ditanya dan agak mengerti pertanyaannya maka Pak Gundul berencana untuk menjawabnya dengan bahasa isyarat yang merupakan senjata terakhirnya.
Ternyata selama perjalanan Si Bule tidak menyakan apapun. Akhirnya pak Gundul membawa taksinya dengan tenang. Namun saking tenangnya Pak Gundul lupa kalau sedang membawa penumpang. Tiba-tiba didepan belokan, taksi Pak Gundul oleng dan Si Bule itu memperingatkan Pak Gundul dengan menepuk punggungnya.
“Be careful!!” Teriak Si Bule.
Tepukan Si bule di punggung Pak Gundul membuat pak Gundul kaget setengah mati dan membuat mobilnya menabrak pohon karena Pak Gundul banting setir. Untungnya Pak Gundul dan Si Bule baik-baik saja.
Suasana masih dalam keadaan ramai dalam kerumunan. Setelah sedikit tenang akhirnya Pak Gundul diwawancarai oleh orang yang menolongnya. Sebut saja Pak Gondrong namanya.
“Sudah tenang, Pak?” Tanya Pak Gondrong.
“Iya lumayan” jawab pak Gundul sambil menghembuskan nafas.
Si Bule pun ikut bertanya.
Dalam bahasa Indonesianya seperti ini.
“Kenapa Bapak sangat kaget setengah mati padahal saya hanya menepuk punggung bapak?” Tanya Si Bule dengan wajah penasaran.
“Maaf bu.. Hari ini adalah hari pertama Saya bekerja sebagai supir taksi jadi Saya sangat kaget.” Jawab pak Gundul dengan tenang sambil memegang kepalanya yang terbentur setir.
“Memang sebelumnya Bapak kerja apa?”
“Sebelumnya Saya juga sebagai supir, Bu.”
Lalu pak Gondrong langsung nyambar karena penasaran.
“Kalau sebelumnya bapak sebagai supir kenapa begitu kaget, Pak? Bukannya sudah biasa?”
“Kali ini Saya kaget luar biasa, Pak. Walaupun sebelumnya Saya sebagai supir tapi kali ini berbeda. Mobil yang biasa Saya bawa adalah mobil jenazah. Dalam pikiran Saya masih bekerja sebagai pembawa mobil jenazah. Maklum pak sudah puluhan tahun. Selama puluhan tahun tidak ada yang menepuk punggung Saya tetapi kali ini ada yang menepuk punggung Saya. Saya kira penumpang saya ini jenazah yang bangun lagi. Makanya dia minta tolong kepada Saya dengan menepuk punggung Saya.
“Hahahahahahahahahhahahahaha”
Jawaban pak Gundul menciptakan tawa ditengan kerumunan...
 
 



Manut dan ikut

Janggal..
Kebijakan yang tak lagi berpihak
Realita yang tak diharapkan

Sesal pasti ada
Masuk dan tak berdaya
Tunduk pada aturan
Patuh pada orang-orang berkepentingan

Bagaimana?
Sudah tak ada guna
Manut dan ikut pada mereka

Suatu saat..
Generasi baru tak merasakannya
Semoga..
Keluhan seorang mahasiswa

Ku Pilih Hujan

Saat matahari terik
Tiba-tiba datang mendung
Menakut-nakuti akan datangnya hujan
Memupuskan harapan

Resah gelisah gundah
Masih mendung..
Hujan tak kunjung datang
Bingung tak ada kepastian
Aku memilih hujan yang datang
Bukan mendung...

Disudut perpustakaan kampus

Tamu



Kau datang mengetuk pintu membawa sekoper perhatian
Kau letakkan dengan rapih didepanku tanpa aku tahu apa tujuanmu..
Setelah pintu terbuka, kau duduk manis di kursi menceritakan yang kau alami diluar sana
Hujan, panas, badai semuanya..
Aku hanya menjadi pendengarmu dan aku pun tak tahu apa maksud kau menceritakan semuanya padaku
Raut wajahmu menggambarkan tutur katamu
Betapa hati tak iba dan haru mendengarnya
Aku beri tempat untukmu berteduh
Ku suguhkan makanan dan minuman yang tak pernah kau nikmati sebelumnya
Kau hidup layaknya tuan rumah
Sampai saat itu, saat kau pergi dari rumahku, aku masih tak tahu dan tak mengerti apa tujuanmu
Bodohnya aku yang tak menanyakan itu..
Setelah lama hilang, kau pun datang
Maaf dan terimakasih..
Andai kata itu bisa mengembalikan keadaan
Andai kata itu bisa menghapus apa yang telah terjadi
Andai kata itu bisa memperbaiki suasana hati
Andai kata itu membuatku mampu melupakanmu
Andai...
Kini pintu itu telah tertutup
Tak ada yang ku izinkan masuk dan berteduh
Aku anggap mereka yang datang akan sama sepertimu
Kecuali yang mampu tinggal bersamaku selamanya

Comments System

disqus

Disqus Shortname

msora