Selasa, 25 Oktober 2016

Ahsan dan Sisi



"Kamis manis", status BBM di pagi hari. Berharap hari kamis terasa manis dan lebih bersahabat. Hari itu memang manis bagi Sisi, dikaruniai kedua orang tua dan keluarga yang sangat mencintainya, mempunyai banyak teman yang mengagumi kecantikan dan kepandaiannya.Berbanding terbalik dengan kehidupan Ahsan. Hari-harinya terasa berbeda, tidak seperti teman-teman seusianya. Hidupnya merasa kehilangan, kehilangan orang-orang yang dicintainya satu per satu. 
"Mengapa hidupku seperti ini?"
Mukanya terlihat muram ketika pertanyaan itu muncul dalam hatinya.
Sejak kecil, Ahsan tinggal bersama kakek dan neneknya. Kedua orang tuan Ahsan sudah lama bercerai. Perceraian itu membuat hidupnya terasa menjadi korban. Ya, korban ke-egoisan orang tuanya yang memutuskan untuk bercerai. Ahsan sama sekali tidak menginginkan perceraian itu terjadi, namun takdir berkata lain. Orang tuanya sudah bercerai dan Ahsan merasa, menyatukan mereka kembali adalah hal yang tidak mungkin terjadi karena keduanya sudah mempunyai kehidupan yang baru. Ayahnya sudah menikah dan dari pernikahannya itu dikaruniai dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Saat ini Ahsan tahu dimana Ayahnya berada, tetapi Ahsan memilih tinggal bersama keluarga ayahnya di kampung. Ibu Ahsan yang sejak kecil meninggalkannya memilih merantau ke luar negeri tidak pernah memberi kabar dan sampai saat ini Ahsan tidak tahu dimana Ibunya berada.
Hari kamis itu seperti biasa, Ahsan berangkat kerja. Setiap hari Ahsan jalani dengan semangat. Tanpa sengaja saat istirahat tiba, secara spontan Sisi bertanya hal yang tidak pernah ia ketahui dan akhirnya ia memutuskan untuk menanyakannya kepada Ahsan.
“Hey Ahsan koq kamu ga pernah cerita tentang orang tua kamu sih?”
Pertanyaan itu langsung membuat Ahsan menghentikan suapan makanannya. Lalu Ahsan bercerita betapa ia sangat merindukan orang tuanya. Tetapi entah orang tuanya rindu atau tidak. Sejak kecil, ia tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Tidak seperti anak-anak lain.
“Malang sekali nasibmu kawan. Aku sampai terharu mendengar ceritamu. Cerita hidupmu yang kau jalani sampai saat ini. Terimakasih sudah mencurahkan sedikit kesedihanmu padaku, dengan begitu aku dapat mengambil pelajaran dari ceritamu untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun”. Harap Sisi dalam hati.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments System

disqus

Disqus Shortname

msora