"Kamis manis", status BBM di pagi hari. Berharap
hari kamis terasa manis dan lebih bersahabat. Hari itu memang manis bagi Sisi,
dikaruniai kedua orang tua dan keluarga yang sangat mencintainya, mempunyai
banyak teman yang mengagumi kecantikan dan kepandaiannya.Berbanding terbalik dengan kehidupan Ahsan.
Hari-harinya terasa berbeda, tidak seperti teman-teman seusianya. Hidupnya
merasa kehilangan, kehilangan orang-orang yang dicintainya satu per satu.
"Mengapa
hidupku seperti ini?"
Mukanya terlihat muram ketika pertanyaan
itu muncul dalam hatinya.
Sejak kecil, Ahsan tinggal
bersama kakek dan neneknya. Kedua orang tuan Ahsan sudah lama bercerai.
Perceraian itu membuat hidupnya terasa menjadi korban. Ya, korban ke-egoisan
orang tuanya yang memutuskan untuk bercerai. Ahsan sama sekali tidak
menginginkan perceraian itu terjadi, namun takdir berkata lain. Orang tuanya
sudah bercerai dan Ahsan merasa, menyatukan mereka kembali adalah hal yang
tidak mungkin terjadi karena keduanya sudah mempunyai kehidupan yang baru.
Ayahnya sudah menikah dan dari pernikahannya itu dikaruniai dua anak, satu
laki-laki dan satu perempuan. Saat ini Ahsan tahu dimana Ayahnya berada, tetapi
Ahsan memilih tinggal bersama keluarga ayahnya di kampung. Ibu Ahsan yang sejak
kecil meninggalkannya memilih merantau ke luar negeri tidak pernah memberi
kabar dan sampai saat ini Ahsan tidak tahu dimana Ibunya berada.
Hari kamis itu seperti biasa,
Ahsan berangkat kerja. Setiap hari Ahsan jalani dengan semangat. Tanpa sengaja
saat istirahat tiba, secara spontan Sisi bertanya hal yang tidak pernah ia
ketahui dan akhirnya ia memutuskan untuk menanyakannya kepada Ahsan.
“Hey Ahsan koq kamu ga pernah cerita
tentang orang tua kamu sih?”
Pertanyaan itu langsung membuat Ahsan
menghentikan suapan makanannya. Lalu Ahsan bercerita betapa ia sangat
merindukan orang tuanya. Tetapi entah orang tuanya rindu atau tidak. Sejak kecil,
ia tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Tidak seperti anak-anak
lain.
“Malang sekali
nasibmu kawan. Aku sampai terharu mendengar ceritamu. Cerita hidupmu yang kau
jalani sampai saat ini. Terimakasih sudah mencurahkan sedikit kesedihanmu
padaku, dengan begitu aku dapat mengambil pelajaran dari ceritamu untuk selalu
bersyukur dalam keadaan apapun”. Harap Sisi dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar