Dinan
merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya perempuan dan dua adiknya
laki-laki. Saat ini kakaknya berusia 23 tahun, lebih tua dua tahun dari usianya
, adiknya yang satu berusia 11 tahun dan satu lagi masih berusia tujuh
bulan.
Ayah Dinan adalah
seorang petani. Bertani merupakan mata pencaharian keluarganya. Ayah Dinan yang
tak lagi muda membuat beliau cepat lelah. Walaupun begitu, beliau tidak pernah
mengeluh. Jiwa bertaninya sangat kuat sekali sehingga dia tidak pernah
mengeluh. Terik matahari, hujan deras, dinginnya pagi tidak menghalangi
semangatnya.
Tiga bulan sudah padi
ditanam. Padipun menguning dan semakin merunduk pertanda bahwa padi sudah siap
dipanen. Malam itu, Ayah Dinan pergi ke sawah tepatnya pukul tujuh malam
sesudah maghrib. Ibu Dinan sudah mencegahnya supaya mengurungkan niatnya pergi
ke sawah malam-malam tetapi ayahnya memberikan alasan yang membuat ibu Dinan
tidak bisa mencegahnya.
“Memanen di malam hari
memang gelap bu, tetapi udara malam hari terasa teduh dibandingkan siang hari
karena terik matahari.” Jelas ayah Dinan memberikan alasan. “Baiklah pak, kalau
itu alasan bapak, hati-hati saja karena malam hari itu gelap dan tidak mudah
bagi bapak untuk memanen padi.” Ibu Dinan menyarankan.
Tanpa menunggu lama,
ayah Dinan bergegas mengambil peralatan yang diperlukan dan tidak lupa membawa
minum dan kue seadanya. Ayah Dinan mengayuh sepeda sambil menikmati udara dan
angin malam yang berhembus. Sampailah dia di sawah dan mulai memanen padinya.
Pukul sembilan malam
Dinan pulang dari tempat kerjanya. Sampai rumah dia menanyakan keberadaan
ayahnya.
“Bapak kemana bu?” tanya Dinan sambil memeriksa kamar.
“Bapakmu pergi ke sawah.” Jawab Ibu tenang.
“Loh koq malam-malam pergi ke sawah sih bu?” Dinan heran dan sedikit cemas.
“Bapakmu bilang, panen malam-malam tidak terkena teriknya matahari”.
“Tapi bu, apa tidak ada waktu lain?
“Itu alasan bapakmu dan ibu tidak bisa mencegahnya”
Sampai pukul sebelas malam
ayahnya tidak kunjung pulang. Malam sudah larut, tetapi Dinan masih menunggu
ayahnya dengan rasa cemas.
“Haduuuuuh, bapak kemana ya sudah malam belum
pulang juga. Semoga bapak baik-baik saja. Lirih Dinan sambil mengerutkan
wajahnya yang terlihat cemas dan berharap. “Andai aku lelaki, pasti aku akan
bantu bapak. Kasian bapak. Diusianya yang tidak lagi muda, dia masih harus berjuang”.
Mata Dinan berkaca-kaca.
Tiga puluh menit kemudian
ayahnya pulang. Dinan langsung membukakan pintu untuk ayahnya. Hati Dinan
merasa lega karena ayahnya sudah pulang dan itu menghilangkan kecemasan Dinan
Dari mulai menanam,
memberi pupuk, sampai memanen ayah Dinan lakukan sendiri. Dinan sangat bangga
kepada ayahnya. Pekerja keras, semangat menjalani hidup walau beban yang
dipikul begitu berat. Dinan ingin seperti ayahnya yang kuat walaupun dia sadar
bahwa dia adalah seorang wanita. Tetapi kekaguman dinan kepada ayahnya membuat
Dinan menjadi wanita tangguh. Dinan mencontoh ayahnya yang pekerja keras itu.
Bukan hanya dalam urusan pekerjaannya, Dinan pun sering membantu ayahnya di
sawah menanam padi, memberi pupuk, ikut berkebun, bahkan sampai membantu
ayahnya mengangkut padi-padi yang sudah dikering. Hal itu dinan lakukan
layaknya pekerjaan seorang lelaki.
“Selama aku
mampu, selama aku bisa, akan aku lakukan.” Lirih Dinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar