Jumat, 03 Juni 2016

Kekhawatiran


    Dinan merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya perempuan dan dua adiknya laki-laki. Saat ini kakaknya berusia 23 tahun, lebih tua dua tahun dari usianya , adiknya yang satu berusia 11 tahun dan satu lagi masih berusia tujuh bulan. 
 Ayah Dinan adalah seorang petani. Bertani merupakan mata pencaharian keluarganya. Ayah Dinan yang tak lagi muda membuat beliau cepat lelah. Walaupun begitu, beliau tidak pernah mengeluh. Jiwa bertaninya sangat kuat sekali sehingga dia tidak pernah mengeluh. Terik matahari, hujan deras, dinginnya pagi tidak menghalangi semangatnya.
 Tiga bulan sudah padi ditanam. Padipun menguning dan semakin merunduk pertanda bahwa padi sudah siap dipanen. Malam itu, Ayah Dinan pergi ke sawah tepatnya pukul tujuh malam sesudah maghrib. Ibu Dinan sudah mencegahnya supaya mengurungkan niatnya pergi ke sawah malam-malam tetapi ayahnya memberikan alasan yang membuat ibu Dinan tidak bisa mencegahnya.
“Memanen di malam hari memang gelap bu, tetapi udara malam hari terasa teduh dibandingkan siang hari karena terik matahari.” Jelas ayah Dinan memberikan alasan. “Baiklah pak, kalau itu alasan bapak, hati-hati saja karena malam hari itu gelap dan tidak mudah bagi bapak untuk memanen padi.” Ibu Dinan menyarankan.
 Tanpa menunggu lama, ayah Dinan bergegas mengambil peralatan yang diperlukan dan tidak lupa membawa minum dan kue seadanya. Ayah Dinan mengayuh sepeda sambil menikmati udara dan angin malam yang berhembus. Sampailah dia di sawah dan mulai memanen padinya.
 Pukul sembilan malam Dinan pulang dari tempat kerjanya. Sampai rumah dia menanyakan keberadaan ayahnya.
    “Bapak kemana bu?” tanya Dinan sambil memeriksa kamar.
    “Bapakmu pergi ke sawah.” Jawab Ibu tenang.
    “Loh koq malam-malam pergi ke sawah sih bu?” Dinan heran dan sedikit cemas.
   “Bapakmu bilang, panen malam-malam tidak terkena teriknya matahari”.
     “Tapi bu, apa tidak ada waktu lain?
     “Itu alasan bapakmu dan ibu tidak bisa mencegahnya”
Sampai pukul sebelas malam ayahnya tidak kunjung pulang. Malam sudah larut, tetapi Dinan masih menunggu ayahnya dengan rasa cemas.
 “Haduuuuuh, bapak kemana ya sudah malam belum pulang juga. Semoga bapak baik-baik saja. Lirih Dinan sambil mengerutkan wajahnya yang terlihat cemas dan berharap. “Andai aku lelaki, pasti aku akan bantu bapak. Kasian bapak. Diusianya yang tidak lagi muda, dia masih harus berjuang”. Mata Dinan berkaca-kaca.
Tiga puluh menit kemudian ayahnya pulang. Dinan langsung membukakan pintu untuk ayahnya. Hati Dinan merasa lega karena ayahnya sudah pulang dan itu menghilangkan kecemasan Dinan
 Dari mulai menanam, memberi pupuk, sampai memanen ayah Dinan lakukan sendiri. Dinan sangat bangga kepada ayahnya. Pekerja keras, semangat menjalani hidup walau beban yang dipikul begitu berat. Dinan ingin seperti ayahnya yang kuat walaupun dia sadar bahwa dia adalah seorang wanita. Tetapi kekaguman dinan kepada ayahnya membuat Dinan menjadi wanita tangguh. Dinan mencontoh ayahnya yang pekerja keras itu. Bukan hanya dalam urusan pekerjaannya, Dinan pun sering membantu ayahnya di sawah menanam padi, memberi pupuk, ikut berkebun, bahkan sampai membantu ayahnya mengangkut padi-padi yang sudah dikering. Hal itu dinan lakukan layaknya pekerjaan seorang lelaki. 
   “Selama aku mampu, selama aku bisa, akan aku lakukan.” Lirih Dinan.





Rabu, 01 Juni 2016

Aku Kalah

     Mellow sekali hari ini. Mungkin bawaan dari rumah. Entah aku sebut sebagai beban atau makanan yang siap santap. Masalah satu persatu datang dalam hidup seperti makanan sehari-hari yang harus aku lahap habis. Aku menulis bukan untuk mengeluh, aku menulis bukan untuk menyerah, aku hanya ingin menumpahkann perasaanku saja menjadi tulisan yang mungkin suatu saat akan menjadi karya, karya yang bermanfaat, atau mungkin karya yang bisa dibaca oleh banyak orang. Aku bingung harus mulai darimana. Dan akupun tidak tahu apa yang akan aku tulis. Aku hanya mengikuti jari-jari yang digerakkan oleh otakku saja.
Ingin rasanya teriak. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…!!!!!!!!
    Teriakan yang benar-benar terikan bukan teriakan yang ada dihati. Entah teriakan itu akan membuat lega atau hanya sekedar menyakiti tenggorokanku saja. Banyak orang yang berteriak sekuat-kuatnya agar semua masalah yang dihadapi hilang. Apakah benar? Ah itu bohong, itu hanya sementara. Kalau sudah beraktifitas masalah datang lagi. Bukan hilang tapi bertambah. 
     Pada siapa aku harus berbagi? Bukan hanya berbagi kebahagiaan tetapi berbagi keluh kesah ku. Berat sekali rasanya kalau aku pikul sendiri. Tetesan air mata setia menemani saat hati merasa sakit, saat tubuh mulai lelah, dan saat fikiran penuh beban.
     Perasaan macam apa ini? Campur aduk tidak jelas. Apa mungkin karena masalah yang aku hadapi saat ini? Merasa sepi? Merasa sedih? Entahlah. Yang jelas aku ingin mengadu, bukan kepada siapa-siapa, hanya kepada-Mu ya Allah. Tak ada oran yang bisa ku percaya saat ini.
       Ya Allah, aku tahu Laa yukallifullaha nafsan illaa wus’aha. Engkau tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Mu melebihi batas kemampuannya. Aku yakin aku kuat aku bisa. Hanya saja saat ini aku ingin mengeluh pada-Mu tentang rasa yang sedang berkecamuk dihatiku. Engkau maha Tahu akan keadaanku saat ini dan Engkau lebih tahu penawar dari rasa ini. 
“Lemah sekali aku ini”
“Cengeng sekali tubuh ini”
       Kata-kata itu terulang dibenakku. Aku seperti merasa kalah. Kalah karena keadaan, kalah karena masalah, kalah karena perasaan. Hidup sering mengeluh padahal hidupku lebih beruntung daripada orang lain.




Comments System

disqus

Disqus Shortname

msora